Tren Ibu Muda Bikin Konten Parenting, Ini Aturannya Menurut Psikolog

Jakarta

Media sosial alias medsos kini telah berubah menjadi platform berbagi segala informasi, termasuk ilmu parenting. Apa Bunda termasuk yang suka mendapatkan informasi ini dari konten medsos?

Saat ini, konten parenting tak hanya dibuat oleh para pakar. Tren ibu muda membuat konten parenting sudah banyak di media sosial, dari mulai cara mengasuh anak hingga pemberian MPASI. Mereka bahkan melibatkan anaknya di konten lho.

Sebenarnya, tak ada yang salah melibatkan anak dalam membuat konten. Tapi, Bunda perlu pahami dulu aturannya nih.

[related by="category" jumlah="2" mulaipos="1"]

Psikolog Klinis Danang Baskoro, M.Psi., mengatakan bahwa orang tua tak boleh sampai mengabaikan dampak buruk konten pada anaknya. Apalagi, bila tujuan membuat konten hanya demi mendapatkan penilaian dari orang lain.

[related by="category" jumlah="2" mulaipos="3"]

“Menurut saya, orang tua boleh bikin konten kalau tidak berdampak pada anak. Tapi kalau belum cukup usianya lalu memaksa dan dia mengabaikan dampaknya, tapi lebih menomorsatukan kesan dari orang lain, maka itu sudah mulai harus hati-hati, itu masuk toxic parenting,” kata Danang kepada HaiBunda, belum lama ini.

Menurut Danang, tujuan utama membuat konten parenting itu harus jelas. Terutama bila menyangkut apa yang dilakukan orang tua pada buah hatinya.

Sebelum kelewat batas, orang tua perlu menanyakan kembali tujuan membuat konten tersebut. Jangan sampai kita mengutamakan konten, tapi malah mengabaikan kebutuhan merawat anak dengan benar.

“Ada istilah loss of control external, jadi mengambil keputusan berdasarkan penilaian orang lain,” ujar Danang.

“Itu harusnya menjadi kebutuhan kesekian, dibandingkan kebutuhan merawat anak, agar dia sehat. Kalau itu jadi sebaliknya, itu yang harus dipertanyakan, ‘Aku ini kenapa kok bisa begini?’,” lanjutnya.

Benar atau tidaknya konten yang dibuat, memang sulit dinilai oleh publik karena tidak mengetahui kebenaran di balik layar. Jadi, semuanya harus kembali lagi pada orang tua yang membuat konten ini bersama anaknya.

Lalu apa yang harus dilakukan orang tua agar tidak kebablasan membuat konten parenting yang membahayakan anak? Klik halaman berikutnya ya, Bunda.

Simak juga tips mengatasi parental burnout, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]


[related by="category" jumlah="2" mulaipos="5"]
fase-anak
Anak Usia 1-3 Tahun
Ketahui lebih jauh perkembangan anak 1-3 tahun.
Cek Yuk arrow-right

Artikel ini bersumber dari : www.haibunda.com.

Tinggalkan komentar