Tak Cukup dengan ”Skincare” untuk Lebih Percaya Diri

Posted on

Menjadi cantik dengan melakukan serangkaian perawatan kulit, terutama wajah, sudah menjadi kebutuhan primer kaum wanita, termasuk kaum remajanya. Bahkan, untuk perawatan tak sekadar menggunakan produk <i>skincare </i>secara mandiri, tetapi <i>treatment </i>koreksi wajah pun sudah menjadi tren. Agar tetap awet muda, menjaga penampilan, dan meningkatkan kepercayaan diri menjadi alasannya.
KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)

Menjadi cantik dengan melakukan serangkaian perawatan kulit, terutama wajah, sudah menjadi kebutuhan primer kaum wanita, termasuk kaum remajanya. Bahkan, untuk perawatan tak sekadar menggunakan produk skincare secara mandiri, tetapi treatment koreksi wajah pun sudah menjadi tren. Agar tetap awet muda, menjaga penampilan, dan meningkatkan kepercayaan diri menjadi alasannya.

Definisi cantik bervariasi bagi setiap orang. Ada yang menilai cantik dari apa yang tampak di muka, yaitu tampilan fisiknya, tetapi tak sedikit yang melihat kecantikan dari kepribadian seseorang. Namun, tak dapat dimungkiri penampilan secara fisik yang menarik akan meningkatkan rasa percaya diri.

Definisi cantik bervariasi bagi setiap orang.

Selaras dengan pendapat tersebut, hasil riset yang dirilis ZAP Beauty Index 2021 mendapat temuan, tiga top of mind tentang arti cantik dari sekitar 6.000 wanita yang menjadi responden adalah jika bertubuh sehat dan bugar (68,9 persen), memiliki wajah yang bersih dan mulus (67,1 persen), serta percaya diri (60,8 persen). Temuan ini menggambarkan telah terjadi pergeseran pandangan tentang definisi cantik dibandingkan dengan riset sebelumnya.

Pada ZAP Beauty Index 2020, memiliki kulit cerah dan glowing mendominasi mayoritas suara (82,5 persen), tetapi turun menjadi 60 persen pada survei tahun 2021.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/mjB8nBUM0O9UGZzwwL_hn6Rmo6U=/1024x1462/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F03%2F18%2Fb5916338-5306-464e-882e-e00caba86046_png.png

Hasil survei ZAP Clinic bersama MarkPlus Inc ini juga mendapat gambaran, paling tidak wanita Indonesia dari berbagai generasi rata-rata menggunakan tiga jenis perawatan kulit (Gen Z: 22,0 persen, Gen Y: 23,6 persen, Gen X: 30,5 persen). Bahkan, satu dari lima kalangan muda kurang dari 25 tahun (Gen Z) menggunakan lebih dari lima jenis produk perawatan kulit setiap harinya, melebihi kelompok generasi lainnya.

Baca juga: Mewaspadai Menjamurnya Bisnis Kecantikan

Tren koreksi wajah

Tak cukup dengan perawatan menggunakan produk skincare, survei juga memotret keinginan untuk melakukan treatment koreksi wajah, seperti fillers, injection, dan botox, juga tinggi.

Rata-rata sekitar 40 persen semua kelompok generasi menginginkan treatment ini. Menarik justru pengakuan dari kelompok usia 15-24 tahun, di mana hampir separuh kelompok generasi ini menyatakan keinginan tersebut. Bahkan, seperempatnya punya keinginan yang kuat untuk melakukan treatment memperbaiki kekurangan yang ada di wajah ini.

Baca Juga :   Jerawat di Punggung
Pengunjung melintasi papan iklan produk kecantikan di DP Mall, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (2/6/2020). Aktivitas bisnis dan ekonomi sebagian mulai kembali dihidupkan setelah beberapa waktu terdampak ketatnya pembatasan sosial.
KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Pengunjung melintasi papan iklan produk kecantikan di DP Mall, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (2/6/2020). Aktivitas bisnis dan ekonomi sebagian mulai kembali dihidupkan setelah beberapa waktu terdampak ketatnya pembatasan sosial.

Kondisi tersebut menyiratkan sifat manusia yang selalu tidak puas, termasuk dengan kondisi wajah sebagai karunia sejak lahir sehingga membutuhkan tindakan untuk memperbaiki kekurangan yang ada, bahkan tak segan-segan merogoh kantong lebih dalam demi penampilan yang lebih ”sempurna”.

Kemajuan teknologi di bidang kecantikan dan bertumbuhnya klinik kecantikan semakin mempermudah konsumen untuk mendapatkan treatment yang diinginkan. Apalagi treatment ini dilakukan tanpa operasi sehingga perawatan koreksi/permak wajah pun menjadi tren di masyarakat.

Kemajuan teknologi di bidang kecantikan dan bertumbuhnya klinik kecantikan semakin mempermudah konsumen untuk mendapatkan treatment yang diinginkan.

Pada umumnya treatment fillers, injection, dan botox dilakukan dengan metode suntik. Treatment filler dilakukan banyak orang untuk membantu mencapai tampilan lebih halus atau penuh pada area wajah.

Suntik filler wajah merupakan salah satu solusi yang ditawarkan dalam perawatan kecantikan untuk menyamarkan tanda-tanda penuaan di wajah akibat munculnya garis-garis halus dan kerutan seiring bertambahnya usia.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/pMwVaVz_kY42pcchOlttvE5ZCZY=/1024x2396/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F03%2F12%2F60f2c774-637f-462c-96d6-9e27428ade1d_png.png

Terapi ini hampir mirip dengan botox (botulinum toxin). Suntik botoks berasal dari neurotoksin bakteri Clostridiumbotulinum, yang dapat merelaksasi atau melumpuhkan otot untuk sementara, lebih dikenal terutama untuk perawatan anti-penuaan.

Selama beberapa dekade terakhir, suntik botoks menjadi salah satu perawatan paling ampuh untuk menghilangkan garis halus dan kerutan pada wajah agar tampak lebih muda.

Selama beberapa dekade terakhir, suntik botoks menjadi salah satu perawatan paling ampuh untuk menghilangkan garis halus dan kerutan pada wajah agar tampak lebih muda. Treatment ini biasanya untuk mengatasi kerutan di antara alis atau di sekitar mata, kerutan yang mirip kulit jeruk pada dagu, atau garis-garis halus pada dahi dan sudut bibir.

Baca Juga :   Model Cantik Surabaya Sukses Pasarkan Produk Skincare Lokal Tembus Mancanegara

Sementara treatment injection lebih banyak dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kesehatan kulit, misalnya dengan menyuntikkan hyaluronic acid agar wajah terlihat lebih sehat, halus, dan bening.

Pengunjung mencoba perawatan rambut di sebuah pameran industri kecantikan.
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN

Pengunjung mencoba perawatan rambut di sebuah pameran industri kecantikan.

Hyaluronic acid yang memiliki kegunaan utama melembabkan kulit juga bisa untuk menstimulasi produksi kolagen alami agar kulit tidak mudah berkerut dan nutrisi kulit tetap terjaga. Ada juga treatment vitamin C injection yang menawarkan keunggulan dapat memutihkan dan mencerahkan kulit.

Tren praktik perawatan kecantikan tanpa operasi ini di tataran dunia juga meningkat. Laporan survei International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) tentang praktik estetika/kosmetik pada tahun 2020 menunjukkan, perawatan tanpa operasi yang terdiri dari injeksi, peremajaan wajah, dan lainnya meningkat 5,7 persen (14,4 juta praktik).

Treatment botox merupakan praktik perawatan kecantikan yang paling diminati, yaitu 43,2 persen dari total praktik perawatan tanpa operasi tersebut, diikuti injeksi hyaluronic acid sebanyak 28,1 persen.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/1K3gDCM1fz30EK73Akl_LWzZ4M4=/1024x1238/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F03%2F18%2Fc3f08eee-e149-4048-9878-142ca5942db6_png.png

Awet muda dan percaya diri

Berbagai alasan melakukan treatment koreksi wajah pun dikemukakan. Selain memperbaiki kekurangan pada wajah, alasan agar lebih percaya diri juga menjadi pertimbangan yang kuat.

Hal ini tergambar dari hasil ZAP Beauty Index, semakin muda kelompok usia semakin kuat alasan melakukan koreksi wajah untuk meningkatkan kepercayaan diri. Tujuh dari sepuluh responden di bawah usia 25 tahun mengaku melakukan koreksi wajah agar lebih percaya diri.

Sebuah operasi bedah plastik di klinik D'Elegance di kawasan Gandaria, Jakarta.
KOMPAS/RIZA FATHONI RZF

Sebuah operasi bedah plastik di klinik D’Elegance di kawasan Gandaria, Jakarta.

Memang kecantikan menjadi problem psikologis banyak wanita yang kurang percaya diri. Sejumlah peneliti menemukan bahwa penampilan fisik menjadi kontributor yang sangat berpengaruh pada rasa percaya diri remaja. Pada penelitian Harter (1990), penampilan fisik secara konsisten berkorelasi paling kuat dengan rasa percaya diri secara umum (Berliana, Nadya; 2018).

Menjaga penampilan juga diamini lebih dari separuh responden dari semua generasi. Sementara agar terlihat tetap awet muda menjadi alasan paling kuat kelompok usia 46-55 tahun (58,3 persen), mengingat selain karena gravitasi kerutan di wajah juga semakin terlihat seiring bertambahnya usia.

Meski demikian, menarik untuk dicermati, dari hasil survei terlihat kelompok usia muda pun sudah sejak dini melakukan antisipasi agar tidak terlihat cepat tua. Alasan agar tetap awet muda ini diakui 43,2 persen kelompok muda menjadi alasan melakukan koreksi wajah.

https://dmm0a91a1r04e.cloudfront.net/juVUARa8rX70N85XCSa5UMKtTSU=/1024x1508/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F03%2F18%2F23e6b0c6-426b-41ca-9739-ce63df504f6d_jpg.jpg

Yang terpenting, tetap berhati-hati dalam memilih produk, treatment, ataupun klinik kecantikan untuk perawatan kulit, khususnya wajah. Jangan sampai keinginan untuk tampil lebih cantik dan percaya diri justru menjadi petaka. (LITBANG KOMPAS)

Baca juga : Cantik Itu Hak Semua Bentuk Tubuh

Artikel ini bersumber dari : www.kompas.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *